FuninthemakingCara Terbaik Penanganan Sampah Dengan 3R Mengenal Apa itu 3R dan cara penanganan sampah dibumi yaitu 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle), mungkin Anda sudah tidak asing lagi dengan ketiga istilah tersebut, ha ha. Nah, kali ini mari kita bahas tentang reduksi, reuse dan daur ulang, atau dari pengertian ke contoh yang biasa disingkat 3R.

Cara Terbaik Penanganan Sampah Dengan 3R

Cara Terbaik Penanganan Sampah Dengan 3R
funinthemaking.net

Anda akan menemukan bahwa memahami konsep 3R sangat penting untuk menjadikan lingkungan kita lebih baik daripada limbah kertas.Bahkan Saat ini, jutaan sampah sudah membanjiri planet kita setiap hari. Sekarang mari kita simak penjelasannya, yuk kita mulai!

Apa itu Reduksi, Penggunaan Kembali, Daur Ulang (3R)?

Reduce, reuse, and recycle (3R) adalah konsep serangkaian langkah untuk mengelola sampah dengan benar.

Baca Juga : Cara Praktis Bikin Kompos Dari Sampah Organik

 

Reduce

Cara Terbaik Penanganan Sampah Dengan 3R
funinthemaking.net

Mengurangi berarti “mengurangi pemborosan”. Dengan kata lain, langkah ini mencontohkan kita agar mengurangi  produk yang nantinya akan menjadi pemborosan. Terutama produk yang membutuhkan waktu lama untuk terurai secara alami, seperti produk yang terbuat dari plastik. Untuk mengurangi langkah ini, anak-anak menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, penggunaan barang yang sulit atau bahkan tidak mungkin untuk didaur ulang harus dikurangi. Dengan begitu, timbunan sampah yang dapat merusak lingkungan akan berkurang. Contoh penerapan langkah ini adalah dengan membawa botol atau peralatan minum sendiri, seperti sendok dan garpu, untuk mengurangi limbah botol dan peralatan sekali pakai saat bepergian seperti dikutip beritasatu.com.

 

ReuseReuse

 

Reuse berarti “menggunakan kembali”. Langkah ini membuat kita agar menggunakan lagi produk yang sudah pernah digunakan. Dengan begitu, produk sekali pakai anak-anak tidak akan menghasilkan banyak limbah. Misalnya, kami menggunakan kembali botol air yang digunakan sebagai pot bunga. Atau, kita bisa menggunakan toples kue untuk menyimpan koin atau pernak-pernik lainnya. Kami juga dapat mengisi ulang botol sabun mandi bekas dengan membeli isi ulang.

 

Recycle

Recycle

Recycle “mendaur ulang”. Langkah ini bisa disebut juga sebagai langkah yang memberikan kesempatan kedua bagi berbagai produk bekas untuk menjadi produk baru. Sebab, anak-anak, produk daur ulang baru bisa digunakan kembali dan tidak hanya menjadi tumpukan sampah yang mencemari lingkungan. Produk daur ulang biasanya merupakan bahan buangan yang tidak bisa langsung digunakan lagi. Contohnya adalah daur ulang kemasan makanan atau minuman plastik bekas. Umumnya kemasan makanan atau minuman hanya didesain untuk sekali pakai dan oleh karena itu tidak dapat digunakan kembali dengan fungsi yang sama.
Oleh karena itu, produk bekas tersebut harus didaur ulang menjadi produk baru, seperti tanaman dalam pot. Apa pentingnya 3R? Tahukah Anda bahwa setiap produk yang diproduksi dan digunakan oleh manusia berdampak besar bagi planet ini? Ya, untuk menghasilkan berbagai produk, Anda membutuhkan banyak sekali sumber daya alam dan energi. Setelah digunakan, produk tersebut akan meninggalkan banyak sampah. Sampah yang tidak dikelola dengan benar dapat menumpuk bahkan menimbulkan lingkungan tercemar sehingga membahayakan alam. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menerapkan 3R atau reduce, reuse, dan recycle anak. Secara garis besar, jika kita melakukan 3R, inilah keuntungan yang akan kita dapatkan.

 

-Lindungi alam dengan lebih baik, sehingga menciptakan masa depan yang berkelanjutan

Sumber daya alam akan berkelanjutan

-Energi yang digunakan bisa lebih hemat

-Dapat secara signifikan mengurangi dampak emisi gas rumah kaca, sehingga membuat lingkungan lebih sehat

-Dapat mengurangi limbah pada limbah produk, agar tidak membahayakan alam

-Hewan ini, terutama yang hidup di laut, dapat dilindungi dari ancaman sampah, dan ancaman sampah bisa berbahaya.

Nah, setelah Anda tahu apa itu reduksi, penggunaan kembali, daur ulang, dan manfaat 3R dalam kehidupan sehari-hari, sekarang saya akan menjelaskan cara mengurangi sampah.

1. Ubah Perilaku Orang

Meningkatnya jumlah pelajar dan pelajar di luar Yogyakarta juga menyebabkan peningkatan tempat pembuangan sampah. Diperkirakan setiap orang akan menghasilkan satu kilogram sampah setiap hari. Di saat yang sama, sampah yang dihasilkan dipicu oleh gaya hidup langsung para siswa, seperti makan fast food atau toko, membeli berbagai barang melalui layanan online, dan menggunakan layanan laundry. Halek berkata: “Semuanya membutuhkan plastik sebagai kemasan.” Di saat yang sama, saat berbelanja di supermarket atau pasar tradisional, meski membawa tas belanja sendiri, masih banyak sampah plastik yang dihasilkan. Terutama dari kemasan produk yang dibelinya, seperti snack, botol plastik, kemasan sabun atau sampo isi ulang, dan kemudian kemasan isi minyak nabati.

Halek berkata: “Pergi ke toko dan bawa pulang 10 kantong plastik.”Misalnya, membeli lima jamu berbeda akan dikemas dalam lima kantong plastik berbeda. Belum lagi kantong plastik yang digunakan untuk wadah ikan, daging, sayuran, dan nasi. Halik percaya bahwa dengan mengurangi sampah plastik untuk mengubah perilaku, Anda bisa mulai dengan membeli wadah bahan makanan yang dapat digunakan kembali di pasaran. Peran pemilik rumah adalah mendidik anak kos untuk mengurangi sampah dengan menggunakan metode 3R untuk memisahkan sampah. Halik berkata: “Sayangnya, semakin banyak rumah kos di Yogyakarta yang tidak memiliki tuan tanah.”

2. Pengelolaan sampah masyarakat

Jumlah depo sampah terus bertambah. Apalagi di Kota Yogyakarta, setiap masyarakat diwajibkan memiliki minimal satu depo sampah. Tak heran jika jumlah fasilitas penampungan sampah di Yogyakarta mencapai 455 unit pada 2018. Sedangkan di Sleman dan Bantul hampir 250 dan 150 unit.Penanggung jawab setiap keluarga akan menjadi pelanggan dan menyimpan sampah di gudang sampah untuk diolah. Jenis sampah ini merupakan sampah yang masih dapat didaur ulang dan memiliki nilai ekonomis. Seperti kemasan plastik, botol mineral plastik, aneka logam dan kertas. Halek mengatakan: “Biasanya akan ada pertemuan bank sampah dengan nasabah sebulan sekali.” Nasabah akan mendapatkan keuntungan dari timbunan sampah. Sementara itu, bank sampah akan menggunakan metode 3R untuk mengolah sampah yang dititipkan nasabah, seperti membuat kerajinan tangan.

Baca Juga : 10 Cara Mengontrol Kadar Gula Darah Dengan Baik dan Benar

Halik mengatakan: “Residunya diproses di TPA.” Masalahnya adalah hanya sedikit tempat pembuangan sampah yang tertahan karena kejenuhan. Kemudian skala bank sampah yang dinilai berhasil adalah bank sampah yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar dan meningkatkan jumlah nasabah dengan volume sampah sisa yang sama atau lebih banyak. “Ini tentu bermasalah. Di mana tempat menyimpan sampah, ternyata sampah semakin membesar? Mengapa residu bertambah? Artinya masih ada cara pembuangan sampah konvensional,” kata Halek.Menurut Halik, indikator keberhasilan penyimpanan sampah adalah pengurangan residu. Tidak masalah, tabungan semakin berkurang. Halik mengatakan: “Artinya mengurangi konsumsi sampah.” Selain itu pengelola gudang sampah juga bisa diajak menjadi kepanjangan tangan pemerintah untuk melakukan kampanye pengurangan sampah plastik. Dilihat dari lingkup nasional, target penurunan metode 3R diturunkan menjadi 30% di tingkat nasional setiap tahun. Sementara pengurangan sampah dengan metode 3R di Yogyakarta hanya berkurang 25% per tahun, Sleman 18%, dan Bantul 9%. Halik berkata: “Di Indonesia, jalan masih panjang untuk mencapai tujuan nol plastik.”

 

3. Pengelolaan limbah plastik oleh produsen

Tak bisa dipungkiri, sebenarnya produsen adalah perusahaan dari berbagai makanan, minuman, dan produk rumah tangga lainnya, dan kemasannya paling banyak menyumbang sampah plastik. Karena orang membeli dan menggunakan produknya dalam jumlah banyak. Faktanya, kami bekerja keras agar produsen dapat mengurangi sampah plastik atau setidaknya berpartisipasi dalam penerapan metode 3R pada kemasan produk mereka. Tugas tersebut telah diatur dalam Pasal 15 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 (tentang Pengelolaan Sampah). Dikatakan bahwa produsen wajib mengelola kemasan dan / atau barang yang mereka produksi yang tidak dapat atau sulit terurai melalui proses alami. Halek mengatakan: “Oleh karena itu, perlu adanya mekanisme pengembalian kemasan plastik dari konsumen ke produsen.”

Pekerjaan ini dilakukan oleh sebuah perusahaan manufaktur minuman beberapa tahun lalu. Produsen menggunakan kemasan botol kaca untuk produk minuman mereka. Setelah konsumen menggunakannya, mereka menukar uang dengan botol kaca di toko tempat botol kaca tersebut dibeli. Pemilik toko atau toko kemudian menyimpannya kembali ke produsen. Halik berkata: “Produsen dapat menggunakan kembali botol kaca untuk produk kemasan yang akan dijual kembali.” Itu saja, kini banyak produsen minuman yang memilih menggunakan botol plastik. Bahkan untuk menarik minat konsumen, produsen juga berinovasi memproduksi minuman dalam kemasan dalam berbagai ukuran. Kalau dulu hanya satu liter, sekarang jadi 500 ml, 250 ml sampai 100 ml. Halek berkata: “Ini adalah strategi pemasaran bagi produsen untuk menarik pembeli.” Pada saat yang sama, konsumen membeli karena alasan praktis. Dampaknya semakin banyak sampah plastik yang dihasilkan.

Menurut Halek, untuk mendorong implementasi Pasal 15 UU No. 18 2008, Halek mengatakan akan menerbitkan peraturan pemerintah untuk mengatur mekanisme yang diatur dalam Pasal 16. Sayangnya, sejauh ini mekanisme tersebut belum ada. Halek mengatakan: “Ke depan, penerapan Pasal 15 akan lebih efektif dalam mengurangi jumlah sampah plastik.” Pasalnya, semakin banyak konsumen yang membeli produknya, semakin banyak kemasan plastik yang dikembalikan. Harus diolah . “Seiring dengan berjalannya waktu, produsen pasti akan mempertimbangkan untuk mendaur ulang kemasan dengan baik tanpa mencemari lingkungan. Karena itu, aturannya mempercayakan tanggung jawab kepadanya,” kata Halek.